Eksplorasi Kesehatan Mental Berbasis Budaya, Mahasiswa BPI UIN Walisongo Semarang Pelajari Terapi Meditasi di Suryani Institute Bali
BALI, 15 April 2026 – Sebanyak seratus mahasiswa dariprogram studi Bimbingan dan Penyuluhan Islam (BPI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang melaksanakan kunjunganakademik dan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) ke Suryani Institute for Mental Health di Bali. Kunjungan ini bertujuanuntuk memperluas cakrawala keilmuan mahasiswa dalammemahami model pelayanan kesehatan mental yang holistik, yang mengintegrasikan metode medis modern dengankearifan lokal, spiritualitas, serta nilai budaya.
Dalam kunjungan tersebut, para mahasiswa diterima langsung oleh pihak Suryani Institute for Mental Health. Institusi nirlaba yang didirikan oleh psikiater terkemuka Prof. Dr. dr. Luh Ketut Suryani, Sp.KJ(K) ini memberikan ruang pembelajaran yang sangat bermakna. Mahasiswa diberikan pemaparan mendalam mengenai strategi pelayanan kesehatan jiwa di akar rumput, termasuk penanganan pasien dengan gangguan jiwa berat yang sulit dikendalikan atau dipasung, melalui metode kunjungan rumah (home visit) yang berbasis pendekatan sosiokultural dan kekeluargaan.
Tidak hanya menerima materi teori, para mahasiswa BPI UIN Walisongo juga berkesempatan untuk mempraktikkan langsung salah satu metode olah jiwa unggulan dari institusi ini, yaitu terapi meditasi. Pihak Suryani Institute mengajarkan bahwa meditasi yang dilakukan dengan posisi duduk secara rutin merupakan sarana yang efektif untuk mengistirahatkan jiwa secara mendalam, memulihkan energi tubuh, serta menumbuhkan ketenangan batin agar manusia mampu memiliki kepekaan sosial dan moral yang kuat. Banyak mahasiswa merasakan dampak positif yang instan berupa kedamaian pikiran setelah mempraktikkan teknik tersebut.
“Saya merasakan ketenangan yang luar biasa setelah mengikuti praktik belajar meditasi ini. Bagi kami sebagai mahasiswa Bimbingan dan Penyuluhan Islam, teknik ini bukan hanya sekadar relaksasi, melainkan bisa menjadi salah satu cara atau instrumen yang sangat baik untuk bermuhasabah diri, menjernihkan pikiran, dan memperkuat kedekatan spiritual,” ujar Muhammad Farid, mahasiswa prodi BPI UIN Walisongo Semarang.

Interaksi lintas budaya ini membuka perspektif baru bagi para calon konselor Islam mengenai pentingnya pendekatan holistik dalam memahami dan menangani kesehatan mental di masyarakat. Pihak Suryani Institute percaya bahwa kolaborasi antara dunia akademik, komunitas, dan budaya lokal merupakan fondasi penting dalam membangun sistem kesehatan mental yang lebih inklusif, humanis, dan berkelanjutan.
Melalui program KKL ini, kolaborasi antara institusi pendidikan tinggi Islam seperti UIN Walisongo Semarang dengan lembaga kesehatan mental berbasis komunitas diharapkan dapat melahirkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga memiliki keterampilan praktis, kepekaan sosial, serta siap memberikan kontribusi nyata dalam pembangunan masyarakat di masa depan.
::::::::::::::::::::::::::::::
BPI It’s Amazing
BPI Berkarya Nyata
::::::::::::::::::::::::::::::
Official Social Media
IG : @bpiwalisongo
FB : Bpi Walisongo
Youtube : HMJ BPI UIN Walisongo
Website : hmj bpi uin walisongo
Email : [email protected]
Tik Tok : @hmjbpiuinwalisongo

